Sembari Dinas

Kepada Kartini

Seperti kutipan dari Pramodya Ananta Toer, bahwa menulis adalah bekerja untuk keabadian. Namun, jauh sebelum tulisan-tulisan Pram menggetarkan dunia, seorang perempuan muda yang lahir di Jepara, telah mengabadikan kegelisahannya melalui goresan pena yang akan menjadi tonggak lahirnya kesetaraan kaum pribumi.

Kartini, seorang putri dari golongan priyayi yang dididik dan dibesarkan dengan peraturan agama dan adat yang ketat. Namun jika dibandingkan dengan perempuan lain pada masa itu, ia sangat beruntung karena dapat mengenyam pendidikan dasar di ELS (Europeesche Lagere School) dimana ia mulai membentuk konstruksi berpikir kritis ala Eropa yang pada saat itu menjadi kiblat ilmu pengetahuan di penjuru semesta.

Sayangnya, perempuan muda itu harus tunduk pada kurungan adat bernama tradisi pingitan sejak usia 12 tahun, persis seperti yang diceritakan oleh bapak/ibu guru di bangku sekolah bahwa perempuan pada zaman itu harus menikah pada usia belia untuk menjalankan misi reproduksi serta menjalankan tugas domestik sebagai kanca wingking. Kanca wingking (teman di belakang), itulah istilah yang disematkan pada perempuan di era Kartini. Mengapa kanca wingking? Karena urusan perempuan di zaman itu hanya seputar sumur, dapur, dan kasur (yang letaknya di belakang). Oleh karena itu, perempuan yang keluar rumah untuk berkarir atau mengenyam pendidikan tinggi dianggap melanggar norma sosial sebab dianggap tidak lazim. Kepatuhan perempuan juga tercermin dalam ungkapan suarga nunut, neraka katut yang berarti entah di surga ataupun neraka, perempuan akan selalu ikut.

Tentu saja perempuan muda yang mendapatkan pendidikan ala barat, konsep emansifatie. menjadi dasar pemikirannya untuk menjadi pribadi yang merdeka. Saat ini popularitas Kartini direfleksikan dalam bentuk perayaan setiap tanggal 21 April dimana anak-anak mengenakan berbagai macam kostum, mulai dari pakaian adat hingga profesi tertentu. Tentu saja hal ini perlu diapresiasi sebagai momen untuk mengenang perjuangan seorang perempuan pro kesetaraan gender di era kolonialisme. Namun, sudahkah Anda mewariskan nilai-nilai perjuangan Kartini yang sebenarnya? Sudahkah Anda memahami kritik sosial yang disematkan Kartini dalam tulisan-tulisannya? Karena akhir-akhir ini, banyak yang meragukan perjuangan Kartini sebagai pahlawan emansipasi, bahkan ada yang membuat komparasi antara Kartini dan tokoh pejuang perempuan lainnya.

Mengapa Kartini begitu istimewa?

Di mata penulis, Kartini adalah seorang pemikir yang kritis. Gagasan-gagasan radikalnya tentang isu sosial sungguh telah melampaui pemikiran orang-orang pada zamannya, sehingga dengan berani ia menulis dan berdiskusi dalam bentuk korespondensi. Kepada Nona Estella Zeehandelaar, Kartini mendeskripsikan bagaimana gadis-gadis Jawa terbelenggu oleh adat-istiadat yang mengharuskan mereka untuk tunduk kepada abang, saudara laki-laki, dan ayah serta bagaimana perempuan Jawa dikondisikan untuk tidak boleh berkehendak selain untuk menikah dengan orang asing yang tidak dikenalnya. Kartini menuliskan keresahannya agar dapat mengubah budaya patriarki garis keras menjadi relasi yang setara antara perempuan dan laki-laki

Diceritakannya pula kepada Nona Estella Zeehandelaar tentang kerisauan terhadap kondisi sosial masyarakat Jawa pada masa itu yang dimabuk opium (candu) yang menurutnya lebih jahat daripada mabuk alkohol karena candu adalah akar dari sekian banyak tindak kriminal kala itu. Selanjutnya ia mencurahkan kekhawatirannya pada pendidikan kaum pribumi, terutama kaum perempuan. Tidak banyak perempuan yang bisa membaca dan menulis, bahkan Sebagian kecil perempuan berpendidikan sepertinya yang mampu berbahasa Belanda, dianggap telah melampaui batas. Pada saat itu Kartini percaya bahwa mempelajari berbagai bahasa (seperti Bahasa Inggris, Perancis, dan Jerman) merupakan kunci untuk menguasai ilmu pengetahuan. Sayangnya, Kartini tidak bisa mengakses pelajaran multi-bahasa ini, karena ia dikurung oleh adat yang membelenggunya pasca lulus dari ELS. Walaupun keinginannya begitu menggebu untuk melanjutkan pendidikan menengah ke HBS (Hoogere Burgerschool), lagi-lagi ia harus mengurungkan niat tersebut karena ditentang oleh ayahnya, sebab tidak lazim bagi perempuan untuk mengenyam pendidikan tinggi kala itu. Namun Kartini adalah Kartini, ia tak gentar dalam melaksanakan misi belajarnya dengan terus membaca buku-buku yang dibawa oleh kakaknya (R.M Sosrokartono) yang bersekolah di HBS.

Kepada Nona Estella Zeehandelaar pula ia menyampaikan pemikiran kritis terhadap agama yang dianutnya. Menurut Kartini, agama seharusnya menjadi rahmat untuk segala makhluk yang ada di dunia, namun yang ia lihat pada saat itu adalah manusia-manusia yang mengaku beragama tetapi menyakiti sesamanya. Menurut Kartini, berhati dan berperilaku baik adalah cerminan umat beragama yang paling esensial. Ia menyayangkan bagaimana pernikahan digunakan sebagai alat untuk menindas perempuan. Selanjutnya, ia melihat bagaimana perempuan harus bersaing satu sama lain ketika seorang suami membawa perempuan lain ke rumah. Sekalipun dalam agamanya memperbolehkan beristri lebih dari seorang, namun menurut Kartini, hal tersebut akan menyakiti istri yang lain. Bukan hanya relasi pernikahan yang dikritisi oleh Kartini, namun juga perkara kitab suci. Pada saat itu, kitab sucinya tidak diperkenankan untuk diterjemahkan dalam Bahasa Melayu. Kartini percaya bahwa untuk mengenal dan mengamalkan ajaran agama, seseorang harus memahami isi kitabnya terlebih dahulu, bukan hanya membaca dan menghafalkannya. Jika kitab saja tidak dapat dipahami maknanya, maka akan terjadi mispersepsi, seperti yang terjadi pada lingkungan sosialnya pada saat ini.

“Sekalipun tiada menjadi orang saleh, kan boleh juga jadi orang baik hati bukan, Stella? Dan ‘hati baik’ itulah yang utama. Agama harus menjaga kita daripada berbuat dosa, tetapi berapa banyaknya dosa diperbuat orang atas nama agama itu!” Ucap Kartini di penghujung suratnya.

Walaupun Kartini begitu memuja Eropa sebagai pusat peradaban dunia, ia juga menyampaikan kritiknya terhadap sikap orang-orang Eropa terhadap kaumnya. Ia menyayangkan sikap kaum kulit putih yang ingin disanjung dan gila penghormatan, seperti Raja-Raja Jawa yang harus dipuja oleh golongan yang dianggap lebih rendah. Kartini dengan berani menuliskan bahwa dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang dimiliki oleh bangsa Eropa yang adigung adiguna, sebenarnya sama saja dengan kaum feodal Jawa yang haus penghormatan. Selain itu, Kartini juga mempertanyakan sikap bangsawan Eropa yang mencemooh kebodohan kaum bumiputera, namun sifat mereka berubah mengancam jika para bumiputera terlihat memajukan diri.

“Dan apabila perjuangan orang laki-laki sudah sengit, maka akan bangkitlah pihak perempuan. Berbahagialah kami, beruntung hidup di masa ini! Masa perubahan, masa kuno berdalih menjadi masa baru!” Tulis Kartini di paragraf ke-sekian.

Disini sangat terlihat bahwa Kartini adalah perintis kaum pemuja kesetaraan pada eranya, mengingatkan penulis pada tokoh fiktif bernama Minke. Pemuda berpendidikan yang tergila-gila pada kemajuan bangsa Eropa lalu mencaci adat-budaya kaumnya yang kolot, namun tak lama kemudian balik memaki Eropa yang tak beradab. Namun perbedaannya, Minke adalah laki-laki yang bisa mengakses pendidikan tinggi hingga ke STOVIA (School tot Opleiding van Inlandsche Artsen) pasca kelulusannya dari HBS. Tulisan-tulisannya dimuat dalam surat kabar, keluh kesahnya dapat didengar oleh khalayak, dan lagi, ia memiliki mentor seorang perempuan cerdas dan berdaya bernama Nyai Ontosoroh. Sedangkan Kartini? Melanjutkan pendidikan tinggi pun dilarang, ia menulis dalam kecemasan dibalik tembok raksasa yang mengurungnya serta belenggu pingitan di kakinya. Mentornya adalah surat kabar langganan ayahnya serta buku-buku yang dibawa oleh kakaknya. Namun ia tidak berhenti untuk terus belajar dan mencurahkan cita-cita radikalnya pada secarik kertas yang dikirim pada beberapa sahabatnya, agar dunia tahu bahwa di salah satu bagian kecil dari sebuah negeri yang terjajah, ada seorang perempuan bernama Kartini yang terus melawan dengan sarkasme yang ia tuangkan dalam tulisan untuk melawan konstruksi sosial yang merantai kebebasannya.

Kartini mati muda, meninggalkan cita-citanya untuk bersekolah di Eropa. Ia mewariskan sekolah untuk kaum perempuan yang dirintisnya di pendopo kabupaten. Ia juga meninggalkan seorang bayi mungil yang belum sempat ia jejali dengan doktrin-doktrin perjuangan. Mungkin Kartini memang ditakdirkan untuk membuka jalan, sedangkan kita adalah lokomotif perjuangan kesetaraan yang ia usahakan sedari dulu. Kartini hanya ingin menjadi manusia bebas yang merdeka. Ia memang tidak berjuang dengan cara mengangkat senjata, namun gagasan tertulisnya merupakan pelopor perjuangan kaum pribumi untuk menjadi bangsa yang merdeka. Faktanya, pemikiran radikal seorang perempuan muda telah menandai fase awal pergerakan nasional yang sering luput dari perhatian kita bahwa perjuangan melawan kolonialisme tidak melulu soal senapan, bambu runcing, dan perang gerilya. Kartini juga dapat disebut sebagai konseptor sebuah perubahan, sekolah rintisannya turut menandai perkembangan politik etis di Hindia, bahwa kaum pribumi khususnya perempuan layak untuk mendapatkan pendidikan setara dengan laki-laki.

Padamu Kartini,

Engkau bara yang menyala di tengah gulita

Pembuka jalan pergerakan insan merdeka

Yang fana adalah waktu,

Namamu abadi

DAFTAR PUSTAKA

  1. Marihandono, Djoko dkk. (2016). Sisi Lain Kartini.  Jakarta: Museum Kebangkitan Nasional Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia
  2. R.A Kartini. (Cet.27. 2009). Habis Gelap Terbitlah Terang. (Armijn Pane, Terjemahan). Jakarta: Balai Pustaka
Selengkapnya
Sembari Dinas

Bagaimana Seharusnya Kita Berjemur?

Akhir-akhir ini banyak seruan di media sosial mengenai pentingnya berjemur sebagai salah satu upaya untuk mencegah terjangkitnya covid-19 karena dikabarkan bahwa virus ini akan mati akibat paparan sinar ultraviolet dan suhu tinggi.  Meskipun demikian, belum ada bukti ilmiah yang mendukung efektivitas paparan sinar matahari terhadap angka kejadian covid-19. Studi ilmiah yang ada saat ini menegaskan bahwa sinar ultraviolet (UV-C) efektif digunakan untuk disinfeksi permukaan benda padat, air, dan udara dimana penggunaannya harus melalui pengawasan ketat dan prosedur keamanan khusus karena paparan UV-C secara langsung dapat menyebabkan luka bakar dan kerusakan retina pada mata. Mengetahui fakta tersebut, muncul pertanyaan: “Apakah berjemur memang bermanfaat, atau justru berbahaya bagi kesehatan?

Dalam kehidupan sehari-hari, sinar matahari memancarkan sinar ultraviolet, cahaya, dan panas yang direduksi oleh lapizan ozone, uap air, oksigen, dan karbondioksida yang ada di atmosfer. Sinar ultraviolet (UV) merupakan spektrum radiasi elektromagnetik yang dihasilkan oleh matahari dimana memiliki panjang gelombang yang berbeda:

  1. UV-A memiliki panjang gelombang 315 – 400 nanometer
  2. UV-B memiliki panjang gelombang 280 – 315 nanometer
  3. UV-C memiliki panjang gelombang 100 – 280 nanometer

Lapisan atmosfer bumi mereduksi kurang lebih 90% UV-B dan UV-C, tetapi tidak signifikan dalam mereduksi UV-A yang dipancarkan oleh matahari. Sehingga permukaan bumi paling banyak menyerap UV-A dan sedikit komponen UV-B.

Dibawah ini adalah beberapa faktor yang mempengaruhi paparan sinar ultraviolet:

  1. Ketinggian matahari

Level pancaran radiasi UV ini bervariasi setiap hari di sepanjang tahun karena sangat dipengaruhi oleh posisi dan ketinggian matahari sebagai akibat dari rotasi dan revolusi bumi terhadap matahari. Semakin tinggi posisi matahari di langit saat siang hari, semakin tinggi paparan radiasi sinar ultraviolet

2. Letak astronomis suatu daerah

Semakin dekat dengan ekuator, radiasi sinar UV semakin tinggi karena pengaruh sudut sinar matahari yang jatuh tegak lurus di daerah ekuator.Ilustrasi seperti gambar dibawah ini

3. Letak geografis suatu daerah

Semakin tinggi suatu daerah, maka radiasi sinar UV semakin tinggi. Hal ini disebabkan karena semakin tinggi suatu tempat, semakin tipis lapisan atmosfer yang melindungi dari paparan sinar matahari. Setiap kenaikan 1000 meter, level UV naik sebesar 10-12%

4. Posisi Awan

Awan berperan penting sebagai perisai sinar UV sebelum mencapai permukaan bumi karena setiap tetes air yang terkandung pada awan dapat memantulkan kembali sinar UV. oleh karena itu saat langit cerah dan tidak berawan, level paparan UV lebih tinggi.

5. Lapisan Ozone

Ozone merupakan gas yang terdiri dari tiga molekul oksigen yang dihasilkan secara alami di lapisan stratosfer. Gas ini berfungsi untuk menyerap radiasi UV sebelum mencapai permukaan bumi.

6. Pantulan oleh permukaan bumi (Ground reflection)

Begitu sinar matahari mencapai permukaan bumi, maka akan dipantulkan kembali secara bervariasi sesuai dengan kondisi yang ada. Misalnya, pada permukaan bumi yang tertutup oleh salju, maka sekitar 80% sinar UV akan dipantulkan kembali, sedangkan pada permukaan pasir pantai yang kering sinar UV akan dipantulkan kembali kurang lebih sebesar 15%.

Sinar UV yang mencapai permukaan bumi memiliki beberapa manfaat kesehatan. Paparan ini dalam jumlah kecil sangat penting dalam pembentukan vitamin D di lapisan epidermis kulit dimana vitamin D ini memiliki peran utama dalam penyerapan kalsium dan fosfor untuk pembentukan tulang. Selain itu, fungsi lain yang tidak kalah penting adalah peran vitamin D dalam meningkatkan sistem imun. Vitamin D memiliki reseptor pada sel-sel imunitas tubuh, termasuk makrofag, sel dendrit, sel B dan sel T. Secara umum, dapat dikatakan bahwa adanya vitamin D berperan dalam stimulasi respon imun bawaan (innate immune response) dan respon imun adaptif (adaptive immunity). Selain itu, beberapa studi epidemiologi mendukung adanya hubungan antara sistem imun dan vitamin D. Studi tersebut menjelaskan bahwa defisiensi vitamin D berhubungan dengan peningkatan risiko infeksi  Mycobacterium tuberculosis (bakteri penyebab penyakit tuberculosis) dan penyakit infeksi pernafasan lain. Defisiensi vitamin D juga meningkatkan risiko penyakit autoimun seperti systemic lupus erythematosus, multiple sclerosis, inflammatory bowel disease, dan rheumatoid arthritis. Saat ini para ahli terus melakukan riset untuk mempelajari lebih lanjut tentang efek vitamin D terhadap imunitas tubuh dan penyakit infeksius lain.

Walaupun sinar ultraviolet memiliki banyak manfaat, namun paparan secara berlebihan dapat menimbulkan berbagai dampak negatif. UV-A dan UV-B dapat menstimulasi pigmen melanin yang sudah ada sebelumnya di kulit lapisan atas sehingga menyebabkan perubahan warna kulit menjadi lebih gelap. Paparan UV-A secara berlebih bahkan dapat mempengaruhi lapisan kulit yang lebih dalam sehingga menyebabkan berkurangnya elastisitas dan kerutan pada kulit. Disamping itu, UV-B menstimulasi sel kulit untuk mempertebal epidermis sebagai mekanisme pertahanan tubuh untuk menghambat absorbsi sinar ultraviolet melalui kulit. Paparan UV-B terlalu lama juga dapat menyebabkan sunburn (luka bakar akibat sengatan matahari). Pajanan ultraviolet terus menerus dalam jangka panjang juga meningkatkan risiko kanker kulit karena sinar ultraviolet dapat meningkatkan stress oksidatif pada sel kulit sebagai akibat dari kerusakan DNA. Dampak paparan sinar ultraviolet secara langsung tidak hanya berbahaya bagi kulit, tetapi juga menyebabkan kerusakan pada retina mata. Jika sebelumnya disampaikan bahwa paparan UV dalam jumlah kecil dapat meningkatkan sistem imun melalui mekanisme stimulasi vitamin D, maka pada paparan UV berlebih (terutama UV-B) justru dapat menurunkan sistem imun karena dapat menghambat reaksi terhadap antigen, menstimulai mediator kimia yang menyebabkan imunosupresi, dan menyebabkan apoptosis (kematian terprogram) leukosit (sel darah putih).

Mempertimbangkan aspek manfaat dan dampak dari paparan sinar matahari, ada baiknya Anda melakukan hal dibawah ini saat melakukan sunbath sesuai anjuran WHO:

  1. Batasi waktu

Sinar UV mencapai kadar maksimum pada pukul 10.00 – 16.00 akibat posisi matahari yang mempengaruhi sudut cahaya. Oleh karena itu, batasi paparan sinar matahari pada jam-jam tersebut. Durasi berjemur yang disarankan adalah kurang lebih 15 menit saja, karena paparan sinar matahari lebih dari 20 menit akan meningkatkan risiko pigmentasi kulit dan sunburn.

2. Perhatikan UV index

Environmental Protection Agency (EPA) dan National Weather Service (NWS) telah mengembangkan alat ukur yang disebut dengan UV index untuk memperkirakan paparan sinar ultraviole. Semakin tinggi angka UV index, maka semakin tinggi potensial sinar UV dalam menyebabkan kerusakan kulit dan mata. Tabel dibawah ini menunjukkan UV index dan tingkatannya.

Anda dapat memantau UV index secara online pada https://www.weatheronline.co.uk/Indonesia/Jakarta/UVindex.htm . Untuk saat ini, kisaran UV index di Jakarta dan sekitarnya adalah 10 artinya paparan sinar ultraviolet sangat tinggi. Oleh karena itu setiap individu harus memperhatikan aspek keamanan untuk mencegah berbagai masalah kesehatan akibat sengatan matahari.

3. Gunakan pakaian yang dapat melindungi diri dari paparan UV berlebih

Penggunaan penutup kepala, topi, baju berlengan, serta kacamata khusus (sunglasses) merupakan pelindung diri yang efektif untuk mencegah paparan UV yang berlebih. Penggunaan pakaian berbahan dasar kaos berwarna cerah dan longgar sangat disarankan.   Anda tidak perlu membuka baju saat berjemur, karena sesungguhnya tubuh kita hanya sedikit memerlukan paparan sinar UV ini.

4. Gunakan tabir surya  (sunscreen)

Tabir surya atau Sunscreen berfungsi untuk melindungi kulit karena mengandung bahan kimia yang dapat menahan dan memantulkan kembali sinar UV sehingga tidak terserap oleh kulit. Sunscreen dikategorikan berdasarkan kandungan Sun Protection Factor (SPF) dimana kadar SPF ini dapat melindungi kulit dari paparan sinar matahari dan kapan Anda harus mengoleskan kembali pada kulit. Sebagai contoh: dalam keadaan normal, sengatan matahari terjadi setelah paparan terus menerus selama 20 menit. Jika Anda menggunakan sunscreen dengan SPF 15, maka anda akan terproteksi selama kurang lebih 300 menit. Setelah 300 menit, Anda harus mengoleskan kembali sunscreen tersebut. Perhitungan ini berasal dari 15 (nilai SPF) x 20 menit (nilai rerata). Sebagai perhatian, semakin cerah warna kulit seseorang, maka semakin cepat reaksinya terhadap paparan sinar matahari, sehingga memiliki risiko lebih tinggi terhadap sunburn. Oleh karena itu, pada individu dengan kulit lebih cerah harus lebih sering mengaplikasikan sunscreen.

Orang yang memiliki kulit berwarna cerah, tinggal di dataran tinggi, dan pekerja outdoor disarankan untuk menggunakan sunscreen dengan kadar SPF lebih dari 15. Untuk mendapatkan proteksi optimal, Anda dapat mengoleskan sunscreen kurang lebih 30 menit sebelum kegiatan outdoor, dan segera oleskan kembali setelah aktivitas tertentu misalnya berenang. Warna kulit bukanlah alasan untuk tidak memakai sunscreen, apapun warna kulit Anda, memakai sunscreen merupakan hal yang sangat penting.

Perlu diingat, obat-obatan tertentu juga dapat meningkatkan risiko sensitivitas kulit terhadap sinar matahari, misalnya pil KB, diuretic, antihistamin, dan antidepresan. Selain itu, beberapa individu juga dapat mengalami alergi terhadap sunscreen. Oleh karena itu, lakukan tes alergi dengan cara mengoleskan sedikit sunscreen pada tangan dan tunggu reaksinya dalam beberapa jam. Jika terlihat tanda-tanda alergi seperti gatal, merah, dan bengkak, Anda dapat konsultasi dengan dermatologist untuk mendapatkan rekomendasi sunscreen yang sesuai untuk kulit sensitif.

5. Hindari penggunaan alat tanning

Sinar UV yang diperlukan tubuh cukup didapatkan dari sinar matahari secara alami. Penggunaan alat tanning seperti sunbeds dan sunlamps sangat tidak dianjurkan karena sangat berbahaya bagi kesehatan kulit dan mata.

Oleh karena itu, sangat penting untuk mengetahui manfaat dan dampak sinar matahari terhadap kesehatan, sehingga kita dapat melakukan langkah preventif untuk mencegah masalah kesehatan yang dapat terjadi.

Penggunaan tabir surya tidak hanya diperuntukkan bagi kaum wanita,

karena pria memiliki risiko yang sama.

Enjoy the sun, but enjoy it safely*.

Salam cerdas kontributif!

References:

American Skin Association. “Sun Safety”. http://www.americanskin.org/resource/safety.php . Last Update is not available. Accessed on 14 April 2020

International Ultraviolet Association. “IUVA Fact Sheet: UV Disinfection for Covid-19” http://www.iuva.org/COVID-19 last update is not available. Accessed on 12 April 2020

L. Pierret, M. Suppa, S. Gandini, et.al. Overview on vitamin D and sunbed use.” JEADV Journal Vol 33 (Suppl. 2), 28–33. 2019

Shir Azrielant and Yehuda Shoenfeld. “Editorials: Vitamin D and the Immune System”. IMAJ Journal vol 19. 2017.

Thomas Schwarz. “Mechanisms of UV-induced immunosuppression”. Journal of Keio J Med.Vol. 54 (4): 165–171. 2005.

World Health Organization. “Ultraviolet Radiation” https://www.who.int/uv/sun_protection/en/  last update is not available. Accessed on 12 April 2020.

*) Cancer Council of Victoria, Australia

Selengkapnya
Sembari Dinas

Menjaga Kesehatan Mental Selama Pandemi Corona

Pada bulan Januari 2020, World Health Organisation (WHO) telah mengumumkan SARS-CoV-2 atau yang biasa disebut dengan covid-19 sebagai kedaruratan kesehatan masyarakat yang meresahkan dunia, sehingga pada bulan Maret 2020 WHO resmi menyatakan kedaruratan ini sebagai pandemi. Hingga 7 April 2020, angka kematian akibat covid-19 secara global telah mencapai 73.703 jiwa dan 1.324.907 kasus terkonfirmasi di seluruh dunia. Dapat dipahami bahwa situasi seperti ini menyebabkan perasaan takut, khawatir, dan cemas akibat transmisi virus dan pemberitaan di media massa.

Sebenarnya, rasa cemas dan takut membuat seseorang menjadi lebih adaptif dan secara sadar dapat melakukan berbagai tindakan pencegahan. Namun pada beberapa individu, rasa takut dan cemas ini tidak dapat ditoleransi sehingga menyebabkan ketidaknyamanan seperti gangguan pola tidur, insomnia, gangguan pola makan, rasa panik, sulit fokus, sering lupa, mudah marah, serta gejala fisik seperti peningkatan denyut jantung, sesak nafas, sering berkeringat, gangguan pencernaan, kekakuan otot, dll. Beberapa individu yang lebih rentan mengalami stress yaitu:

  1. Orang tua dan orang yang memiliki penyakit kronis
  2. Anak-anak dan remaja
  3. Orang yang menangani covid-19, seperti tenaga kesehatan dan sukarelawan
  4. Orang yang memiliki riwayat gangguan kesehatan mental, termasuk para pecandu obat-obatan.

Adaptasi psikologis terhadap pandemi sangat penting dilakukan karena stress yang tidak terkendali dapat mengganggu aktivitas. Karantina mandiri dalam waktu yang lama tanpa diimbangi dengan kegiatan yang menyenangkan juga menjadi salah satu faktor yang dapat mempengaruhi tingkat stress. Beberapa hal dibawah ini merupakan cara yang dapat dilakukan untuk meminimalisasi stress selama pandemi.

  1. Menerima kenyataan bahwa rasa cemas dan takut itu normal terjadi

Covid-19 merupakan virus baru dan masih belum banyak hal yang belum kita ketahui sehingga menyebabkan rasa cemas dan takut. Namun jangan khawatir, rasa cemas dan takut inilah yang akan mendorong kesadaran kita untuk melindungi diri dan orang disekitar, meningkatkan kepedulian, dan menimbulkan rasa keingintahuan untuk melakukan penelitian lebih lanjut sehingga menciptakan pengetahuan baru.

  • Mencari sumber informasi yang akurat

Banyaknya informasi yang beredar di media massa secara langsung akan membuat seseorang menjadi cemas dan khawatir. Oleh karena itu, hindari membaca informasi melalui sumber-sumber yang tidak kredibel, misalnya informasi yang beredar melalui pesan berantai. Carilah informasi melalui sumber yang valid, misalnya dari laman resmi WHO, kementerian kesehatan RI, Center for Disease and Prevention Control (CDC), dan lain-lain.

  • Dapat menempatkan diri

Menjadi seseorang yang up-to-date tentang info terkini memang baik, tetapi jika informasi yang didapatkan terlalu banyak, justru akan meningkatkan  risiko stress. Bijaklah dalam menerima informasi dari manapun. Jika Anda merasa lelah, ada baiknya untuk mengistirahatkan diri dari aktivitas daring. Alihkan waktu sejenak untuk tidak menatap layar ponsel dan menggantinya dengan aktivitas lain, misalnya membaca buku.

  • Melakukan pengkajian tingkat stress

Mengetahui tingkat stress sangat penting dalam manajemen stress. Ketika seseorang mengalami stress yang berlebihan, dia akan merasa cemas dan tidak bisa mengontrol emosi negatif. Dengan mengetahui tindakan yang tepat, kita dapat mempertahankan kesehatan jiwa selama pandemi berlangsung. Ada beberapa cara untuk melakukan pengkajian stress level, salah satunya adalah menggunakan Perceived Stress Scale (PSS) survei. Namun survei ini hanya dapat mengkaji tingkat stress dan bagaimana seseorang dapat beradaptasi dengan stress yang dialami, artinya survei ini tidak dapat digunakan sebagai alat diagnostik untuk menentukan gangguan jiwa pada individu. Jika sebelumnya Anda pernah di diagnosa depresi  atau gangguan jiwa lain, Anda dapat langsung minta bantuan kepada para ahli untuk melanjutkan treatment.

Survei dapat anda lihat di https://edc.camhx.ca/redcap/surveys/?s=MJYMXW9LTH (Perceived Stress Scale untuk mengetahui tingkat stress) dan https://edc.camhx.ca/redcap/surveys/?s=N93X9NLEXX untuk mengetahui kemampuan adaptasi dalam menghadapi stress.

  • Berpikir jernih dan menghindari pikiran negatif

Terkadang rasa cemas dan stress muncul dari pikiran negatif sebagai akibat dari pandemi. Misalnya, ketika Anda merasakan gejala flu, tiba-tiba Anda cemas dan berpikir bahwa Anda akan didiagnosa positif covid dan mungkin akan meninggal seperti informasi yang Anda dapatkan dari media massa.

Jika pikiran negatif ini mulai muncul, beberapa hal dibawah ini dapat Anda lakukan untuk mengatasinya:

  1. Mulai identifikasi kecemasan Anda. Anda boleh menuliskannya di kertas dan membuat dafar apa saja yang membuat Anda cemas dan khawatir.
  2. Tantanglah diri Anda dengan mengajukan berbagai pertanyaan:

“Apakah hal ini benar terjadi?”

“Apakah yang sebenarnya terjadi?”

“Bagaimana saya tahu jika ini benar terjadi?”

“Apa buktinya jika ini benar?”

“Apakah kehawatiran seperti ini pernah saya alami sebelumnya?”

“Lalu, tindakan apa yang sebaiknya saya lakukan untuk mendapatkan solusi yang tepat?”

  • Jika masih sulit menghilangkan pikiran negatif ini, Anda bisa menananyakan kembali seperti “Apa dampak kehawatiran ini pada saya? Apakah kehawatiran ini menolong saya untuk memecahkan masalah yang saya alami, atau malah memperparah, sehingga saya malah merasa khawatir terus menerus?”
  • Tanyakan pada diri Anda apakah cara ini efektif
  • Setelah Anda berkomunikasi dengan diri sendiri, berusahalah untuk mendapatkan jawaban yang seimbang, setidaknya Anda dapat melihat hal positif yang mungkin dilakukan. Misal Anda flu dan takut didiagnosa positif covid atau takut kematian, ketahuilah apa saja yang dapat Anda lakukan, misalnya memakai masker, makan buah dan sayur, setelah itu berobat ke fasilitas pelayanan kesehatan.
  • Melakukan relaksasi dan meditasi

Relaksasi dan meditasi sangat berpengaruh terhadap penurunan tingkat stress. Pilih akitivitas relaksasi atau meditasi yang Anda sukai dan mulailah secara bertahap.

  • Mencari support

Physical distance bukan berarti Anda memutus hubungan dengan orang lain, terutama orang-orang yang Anda sayangi. Menyendiri dalam waktu yang lama dapat meningkatkan tingkat stress dan kecemasan. Oleh karena itu, sangat penting untuk saling berkomunikasi dengan orang lain, serta menghindari orang yang membawa pengaruh negatif.

  • Makan makanan bergizi

Untuk menjaga tubuh tetap sehat, tingkatkan konsumsi buah, sayur, susu, dan air putih.

  • Hindari konsumsi bahan-bahan adiktif seperti alkohol, dan rokok

Alkohol dan rokok sering digunakan sebagai pelarian ketika seseorang mengalami stress. Namun, penggunaan dalam jangka panjang sangat berbahaya bagi kesehatan karena otak dan tubuh kita akan menoleransi kandungan zat kimia berbahaya yang terkandung didalam alkohol dan rokok sehingga seseorang akan membutuhkan asupan lebih banyak. Selain itu, konsumsi alkohol dan rokok berlebihan dapat mengambat recovery stress.

  1. Konsumsi kafein secukupnya

Konsumsi kafein berlebihan dapat meningkatkan denyut jantung dan mengganggu pola tidur sehingga menyebabkan kecemasan bertambah berat. Oleh karena itu, konsumsi kafein secukupnya dan hindari kafein sebelum tidur.

  1. Tidur dan istirahat cukup

Waktu tidur dan istirahat yang adekuat akan membantu seseorang untuk mengatasi kecemasan. Usahakan tidur dan bangun di jam yang sama setiap hari dan lakukan relaksasi ringan sebelum tidur agar tidur lebih berkualitas.

  1. Stay Active!

Aktivitas fisik seperti olahraga ringan di pagi hari sangat penting dalam manajemen stress, kecemasan, dan meningkatkan mood. Selain itu, aktivitas fisik dapat menjaga tubuh tetap bugar sehingga dapat meningkatkan imunitas terhadap berbagai penyakit.

Seperti yang telah dikatakan oleh Ibnu Sina bahwa kepanikan adalah separuh penyakit, ketenangan adalah separuh obat, dan kesabaran adalah awal dari kesembuhan. Selamat hari kesehatan sedunia, 7 April 2020. Salam cerdas kontributif!

Source:

https://www.cdc.gov/coronavirus/2019-ncov/daily-life-coping/managing-stress-anxiety.html “Stress and Coping” last update 1 April 2020. Accessed on 7 April 2020

https://www.who.int/docs/default-source/coronaviruse/mental-health-considerations.pdf “Mental health and psychosocial considerations during the COVID-19 outbreak” last update 18 March 2020. Accessed on 7 April 2020.

Center for Addiction and Mental Health https://www.camh.ca/en/health-info/mental-health-and-covid-19#coping “Coping With Stress And Anxiety” . Accessed on 7 April 2020.

Selengkapnya
Sembari Dinas

Masker Kain Penangkal Covid-19

Novel Corona Virus Disease, yang sering disebut dengan Covid-19, merupakan salah satu communicable disease atau penyakit menular yang media penularannya melalui droplet  atau percikan. Oleh karena itu, setiap individu harus melakukan langkah-langkah pencegahan seperti menutup mulut dan hidung saat batuk, menggunakan masker, melakukan karantina mandiri, dan menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, seperti cuci tangan menggunakan sabun, rutin membersihkan lingkungan, makan makanan bergizi, olahraga, istirahat cukup, dan sebagainya.

Seperti yang telah diketahui bahwa gejala covid-19 mirip dengan gejala flu pada umumnya yaitu demam, letih, batuk, pilek, dan pada beberapa kasus terjadi sesak nafas. Namun selain gejala diatas, terdapat individu yang disebut dengan carrier, yaitu seseorang yang telah terpapar oleh virus dan tidak menunjukkan gejala, namun dapat menularkan pada orang lain. Secara kasat mata, kita tidak bisa membedakan individu carrier ini, bahkan kita tidak menyadari bahwa kita sendiri bisa menjadi carrier. Oleh karena itu, disaat pandemi meluas dan kita tidak lagi bisa membedakan mana yang sakit dan tidak, penggunaan masker sangat penting untuk mencegah penularan virus ini.

Prinsip ekonomi menyatakan bahwa kelangkaan terjadi akibat ketidaksesuaian antara supply dan demand. Hal inilah yang terjadi saat ini, dimana semua orang berlomba untuk membeli masker surgical dalam jumlah besar, sehingga menyebabkan kelangkaan dan kenaikan harga. Kelangkaan ini juga berdampak pada kurangnya stok masker di fasilitas pelayanan kesehatan. Oleh karena itu, Center for Disease and Prevention Control (CDC) merekomendasikan penggunaan masker kain untuk digunakan sehari-hari (bukan untuk kepentingan medis). Namun, apakah masker kain ini efektif digunakan untuk mencegah penularan covid-19?

Penelitian yang dilakukan oleh Anna Davies et al pada jurnal Disaster Medicine and Public Health Preparedness tahun 2013, disampaikan bahwa masker surgical dan masker kain dapat mengurangi secara signifikan jumlah mikroorganisme yang keluar saat batuk atau bersin, walaupun masker surgical 3x lebih efektif dalam mengurangi transmisi dari individu yang terinfeksi. Hal ini terjadi karena masker kain dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu jenis kain, ukuran, ketebalan, bentuk, dan ukuran mikroorganisme yang ditularkan. Penelitian ini merekomendasikan bahwa pengunaan masker kain sebagai pilihan terakhir saat masker surgical sulit didapatkan. Penelitian ini juga menegaskan bahwa sebaik apapun tingkat filtrasi suatu masker, tidak akan berpengaruh signifikan jika tidak diiringi dengan tindakan preventif lain, misalnya cuci tangan, etika batuk dan bersin, dan karantina. Selain itu, masker kain hanya efektif digunakan jika dalam kondisi bersih, artinya seseorang harus segera mencuci dan mengganti masker kain setelah dipakai. Penggunaan masker kain secara berulang tanpa dicuci menggunakan sabun atau detergen justru akan meningkatkan risiko infeksi.

Oleh karena itu, CDC membuat protokol penggunaan masker kain untuk masyarakat, dimana harus memenuhi syarat sebagai berikut:

  1. Menutupi hidung dan mulut tanpa celah, namun harus nyaman digunakan.
  2. Harus ada tali atau pengait di telinga.
  3. Memiliki lebih dari satu lapisan
  4. Tidak mengganggu pernafasan (breathable)
  5. Dapat dicuci kembali dan tidak berubah bentuk saat dicuci
  6. Penggunaan masker kain tidak direkomendasikan pada anak usia kurang dari 2 tahun atau bagi yang kesulitan bernafas, pada orang yang tidak sadar, serta pada orang yang tidak mampu melepas masker secara mandiri.
  7. Yang harus diperhatikan saat melepas masker yaitu tidak boleh menyentuh area depan masker karena infeksius. Segera lepas dan cuci masker Anda, serta JANGAN menyentuh wajah terutama mata, hidung, dan mulut sebelum cuci tangan.

Perlukah Anda memakai masker N-95?

Tidak, jika anda bukan petugas medis. Beberapa waktu yang lalu beredar informasi bahwa covid-19 dapat ditransmisikan melalui udara (airborne). Namun apakah info ini benar? Mari kita simak.

Hingga saat ini World Health Organisation (WHO) tidak pernah memberikan justifikasi bahwa covid-19 dapat menular melalui udara (airborne). Informasi mengenai transmisi airborne ini berawal dari sebuah penelitian yang dilakukan oleh van Doremalen et al pada tahun 2020 pada New England Journal of Medicine (NEJM)yang berjudul “Aerosol and Surface Stability of SARS-CoV-2 as Compared with SARS-CoV-1” yang menyatakan bahwa virus tersebut dapat bertahan di udara selama 3 jam ini menuai banyak review. Pada jurnal tersebut, peneliti menyimpulkan bahwa transmisi secara aerosol masih kemungkinan bisa terjadi, artinya penelitian ini tidak menjelaskan bagaimana proses terjadinya transmisi airborne/aerosol ini di kehidupan sehari-hari.

Singkatnya, penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dimana peneliti ingin menguji ketahanan covid-19 di udara, dimana cairan yang mengandung virus dengan konsentrasi tertentu dimasukkan dalam mesin nebulizer yang dapat menghasilkan partikel kecil (aerosol) dengan ukuran kurang dari 5 mikrometer. Selanjutnya, partikel aerosol yang mengandung virus tersebut dialirkan ke tabung Goldberg yang berputar terus menerus, sehingga partikel aerosol tersebut tidak jatuh ke permukaan. Disini peneliti menemukan bahwa virus masih viable (dapat menginfeksi) dan bertahan di udara hingga 3 jam. Namun demikian, transmisi utama covid-19 adalah melalui droplet atau percikan yang umumnya berukuran lebih besar, yaitu lebih dari 5 mikrometer, akibatnya radius percikan paling jauh maksimal 2 meter karena pengaruh gravitasi. Oleh karena itu, ruang lingkup penelitian ini terbatas pada perlakuan/eksperimen di laboratorium, bukan di kehidupan sehari-hari. Selain itu, transmisi airborne juga sangat dipengaruhi oleh suhu, kelembaban, sinar matahari, arah angin, ukuran droplet, viabilitas virus, dan tingkat virulensi dari virus tersebut

Namun, tindakan medis tertentu dapat berisiko untuk meningkatkan kemungkinan transmisi airborne, misalnya pada tindakan nebulizer, intubasi, ventilasi manual, bronchoscopy, Open endotracheal suctioning, induksi sputum, Non-invasive positive pressure ventilation (BIPAP, CPAP) di rumah sakit. Oleh karena itu, pemakaian masker N-95 diutamakan untuk petugas medis, karena sangat berisiko terjadi penularan secara airborne di fasilitas pelayanan kesehatan. Oleh karena itu, marilah kita bijak dalam menggunakan alat pelindung diri, serta membaca informasi melalui sumber yang tepat dan akurat. Salam cerdas dan kontributif!

Selengkapnya