Novel Corona Virus Disease, yang sering disebut dengan Covid-19, merupakan salah satu communicable disease atau penyakit menular yang media penularannya melalui droplet  atau percikan. Oleh karena itu, setiap individu harus melakukan langkah-langkah pencegahan seperti menutup mulut dan hidung saat batuk, menggunakan masker, melakukan karantina mandiri, dan menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, seperti cuci tangan menggunakan sabun, rutin membersihkan lingkungan, makan makanan bergizi, olahraga, istirahat cukup, dan sebagainya.

Seperti yang telah diketahui bahwa gejala covid-19 mirip dengan gejala flu pada umumnya yaitu demam, letih, batuk, pilek, dan pada beberapa kasus terjadi sesak nafas. Namun selain gejala diatas, terdapat individu yang disebut dengan carrier, yaitu seseorang yang telah terpapar oleh virus dan tidak menunjukkan gejala, namun dapat menularkan pada orang lain. Secara kasat mata, kita tidak bisa membedakan individu carrier ini, bahkan kita tidak menyadari bahwa kita sendiri bisa menjadi carrier. Oleh karena itu, disaat pandemi meluas dan kita tidak lagi bisa membedakan mana yang sakit dan tidak, penggunaan masker sangat penting untuk mencegah penularan virus ini.

Prinsip ekonomi menyatakan bahwa kelangkaan terjadi akibat ketidaksesuaian antara supply dan demand. Hal inilah yang terjadi saat ini, dimana semua orang berlomba untuk membeli masker surgical dalam jumlah besar, sehingga menyebabkan kelangkaan dan kenaikan harga. Kelangkaan ini juga berdampak pada kurangnya stok masker di fasilitas pelayanan kesehatan. Oleh karena itu, Center for Disease and Prevention Control (CDC) merekomendasikan penggunaan masker kain untuk digunakan sehari-hari (bukan untuk kepentingan medis). Namun, apakah masker kain ini efektif digunakan untuk mencegah penularan covid-19?

Penelitian yang dilakukan oleh Anna Davies et al pada jurnal Disaster Medicine and Public Health Preparedness tahun 2013, disampaikan bahwa masker surgical dan masker kain dapat mengurangi secara signifikan jumlah mikroorganisme yang keluar saat batuk atau bersin, walaupun masker surgical 3x lebih efektif dalam mengurangi transmisi dari individu yang terinfeksi. Hal ini terjadi karena masker kain dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu jenis kain, ukuran, ketebalan, bentuk, dan ukuran mikroorganisme yang ditularkan. Penelitian ini merekomendasikan bahwa pengunaan masker kain sebagai pilihan terakhir saat masker surgical sulit didapatkan. Penelitian ini juga menegaskan bahwa sebaik apapun tingkat filtrasi suatu masker, tidak akan berpengaruh signifikan jika tidak diiringi dengan tindakan preventif lain, misalnya cuci tangan, etika batuk dan bersin, dan karantina. Selain itu, masker kain hanya efektif digunakan jika dalam kondisi bersih, artinya seseorang harus segera mencuci dan mengganti masker kain setelah dipakai. Penggunaan masker kain secara berulang tanpa dicuci menggunakan sabun atau detergen justru akan meningkatkan risiko infeksi.

Oleh karena itu, CDC membuat protokol penggunaan masker kain untuk masyarakat, dimana harus memenuhi syarat sebagai berikut:

  1. Menutupi hidung dan mulut tanpa celah, namun harus nyaman digunakan.
  2. Harus ada tali atau pengait di telinga.
  3. Memiliki lebih dari satu lapisan
  4. Tidak mengganggu pernafasan (breathable)
  5. Dapat dicuci kembali dan tidak berubah bentuk saat dicuci
  6. Penggunaan masker kain tidak direkomendasikan pada anak usia kurang dari 2 tahun atau bagi yang kesulitan bernafas, pada orang yang tidak sadar, serta pada orang yang tidak mampu melepas masker secara mandiri.
  7. Yang harus diperhatikan saat melepas masker yaitu tidak boleh menyentuh area depan masker karena infeksius. Segera lepas dan cuci masker Anda, serta JANGAN menyentuh wajah terutama mata, hidung, dan mulut sebelum cuci tangan.

Perlukah Anda memakai masker N-95?

Tidak, jika anda bukan petugas medis. Beberapa waktu yang lalu beredar informasi bahwa covid-19 dapat ditransmisikan melalui udara (airborne). Namun apakah info ini benar? Mari kita simak.

Hingga saat ini World Health Organisation (WHO) tidak pernah memberikan justifikasi bahwa covid-19 dapat menular melalui udara (airborne). Informasi mengenai transmisi airborne ini berawal dari sebuah penelitian yang dilakukan oleh van Doremalen et al pada tahun 2020 pada New England Journal of Medicine (NEJM)yang berjudul “Aerosol and Surface Stability of SARS-CoV-2 as Compared with SARS-CoV-1” yang menyatakan bahwa virus tersebut dapat bertahan di udara selama 3 jam ini menuai banyak review. Pada jurnal tersebut, peneliti menyimpulkan bahwa transmisi secara aerosol masih kemungkinan bisa terjadi, artinya penelitian ini tidak menjelaskan bagaimana proses terjadinya transmisi airborne/aerosol ini di kehidupan sehari-hari.

Singkatnya, penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dimana peneliti ingin menguji ketahanan covid-19 di udara, dimana cairan yang mengandung virus dengan konsentrasi tertentu dimasukkan dalam mesin nebulizer yang dapat menghasilkan partikel kecil (aerosol) dengan ukuran kurang dari 5 mikrometer. Selanjutnya, partikel aerosol yang mengandung virus tersebut dialirkan ke tabung Goldberg yang berputar terus menerus, sehingga partikel aerosol tersebut tidak jatuh ke permukaan. Disini peneliti menemukan bahwa virus masih viable (dapat menginfeksi) dan bertahan di udara hingga 3 jam. Namun demikian, transmisi utama covid-19 adalah melalui droplet atau percikan yang umumnya berukuran lebih besar, yaitu lebih dari 5 mikrometer, akibatnya radius percikan paling jauh maksimal 2 meter karena pengaruh gravitasi. Oleh karena itu, ruang lingkup penelitian ini terbatas pada perlakuan/eksperimen di laboratorium, bukan di kehidupan sehari-hari. Selain itu, transmisi airborne juga sangat dipengaruhi oleh suhu, kelembaban, sinar matahari, arah angin, ukuran droplet, viabilitas virus, dan tingkat virulensi dari virus tersebut

Namun, tindakan medis tertentu dapat berisiko untuk meningkatkan kemungkinan transmisi airborne, misalnya pada tindakan nebulizer, intubasi, ventilasi manual, bronchoscopy, Open endotracheal suctioning, induksi sputum, Non-invasive positive pressure ventilation (BIPAP, CPAP) di rumah sakit. Oleh karena itu, pemakaian masker N-95 diutamakan untuk petugas medis, karena sangat berisiko terjadi penularan secara airborne di fasilitas pelayanan kesehatan. Oleh karena itu, marilah kita bijak dalam menggunakan alat pelindung diri, serta membaca informasi melalui sumber yang tepat dan akurat. Salam cerdas dan kontributif!